Selasa, 20 Desember 2011

Tugas perilaku Konsumen tugas ke 3

 TUGAS SOFTSKILL PERILAKU KONSUMEN
SUMBER DAYA KONSUMEN DAN PENGETAHUAN


Bab 1 Pendahuluan

Berbagai sumber daya tersedia dimuka bumi ini,mulai dari sumber daya yang mampu diperbaharui hingga yang mudah habis.Mulai dari sumber daya sosial maupun ekonomi.Dan karnanya dalam pembahasan kali ini akan di bahyas mengenai sumber daya dalam segi ekonomi.Pembahasan kali ini pun membahas sumber daya dari segi ekonomi tak hanya dari permukaan,namun dibuat secara menyeluruh hingga mampu menjabarkan sebagian maksud dari penulis dalam menulis tulisan ini.




Bab 2 Pembahasan

1.1. Pengertian Sumberdaya Ekonomi
Potensi sumberdaya ekonomi atau lebih dikenal dengan potensi ekonomi daerah pada dasarnya dapat diartikan sebagai sesuatu atau segala sesuatu sumberdaya yang dimiliki oleh daerah baik yang tergolong pada sumberdaya alam (natural resources/endowment factors) maupun potensi sumberdaya manusia yang dapat memberikan manfaat (benefit) serta dapat digunakan sebagai modal dasar pembangunan (ekonomi) wilayah.
Potensi sumberdaya ekonomi khususnya sumberdaya alam (natural resources/endowment factors) pada prinsipnya dapat dikategorikan menjadi 3 bagian, meliputi : a. sumberdaya alam yang tidak pernah habis (renewable-perpetual resources). Jenis sumberdaya alam yang masuk kategori ini selalu tersedia sepanjang waktu, dan dapat dimanfaatkan oleh manusia. Contohnya : lahan pertanian, sinar matahari, angin, gelombang laut (tergolong sebagai sumberdaya energi) dan sebagainya. Pemanfaatan jenis sumberdaya alam seperti ini pada dasarnya dapat dieksploitasi sesuai dengan tingkat kebutuhan manusia sepanjang masa. Sumberdaya ini secara umum bersifat permanen, namun demikian jenis sumberdaya ini tidak dapat diproduksi oleh manusia.
Sehubungan dengan itu, tingkat ketergantungan terhadap sumberdaya secara struktural harus bisa dialihkan pada sumberdaya alam lain. Misalnya, penggunaan energi sinar matahari, panas bumi, atau gelombang laut termasuk angin, akan dapat mengurangi ketergantungan manusia terhadap sumberdaya alam yang tidak dapat diperbarui. b. sumberdaya alam yang tidak dapat diperbarui (non-renewable or exhaustible resources). Jenis sumberdaya ini pada dasarnya meliputi sumberdaya alam yang mensuplai energi seperti minyak, gas alam, uranium, batubara serta mineral yang non energi seperti misalnya : tembaga, nikel, aluminium dan lain-lain
Sumberdaya alam jenis ini adalah sumberdaya alam dalam jumlah yang tetap berupa deposit mineral (mineral deposits) diberbagai tempat dimuka bumi. Sumberdaya alam jenis ini bisa habis baik karena sifatnya yang tidak bisa diganti oleh proses alam maupun karena proses penggantian alamiahnya berjalan lebih lamban dari jumlah pemanfaatannya. c. sumberdaya alam yang potensial untuk diperbarui (potentially renewable resources). Kategori sumberdaya alam ini tergolong sumberdaya alam yang bisa habis dalam jangka pendek jika digunakan dan dicemari secara cepat, namun demikian lambat laun akan dapat diganti melalui proses alamiah misalnya ; pohon-pohon di hutan, rumput di padang rumput, deposit air tanah, udara segar dan lain-lain (lihat : Yakin, 1997 dan Soeparmoko, 1997).
Sumberdaya alam ini keberadaannya harus dimanfaatkan seoptimal mungkin dalam kerangka untuk mendorong, mempercepat dan menunjang proses pembangunan wilayah (daerah). Namun demikian penting untuk diperhatikan aspek ketersediaan termasuk daya dukungnya terhadap mobilitas pembangunan daerah, karena apabila sumberdaya alam dengan 3 kategori ini dimanfaatkan dengan tidak bijaksana dan arif maka sudah barang tentu stagnasi dan kemunduran dinamika pembangunan ekonomi wilayah akan semakin cepat menjelma atau merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindarkan.
Disamping komponen sumberdaya alam, pada saat ini peranan sumberdaya manusia (human resources) dalam konteks kegiatan pembangunan ekonomi termasuk pembangunan ekonomi daerah (wilayah) semakin signifikan. Faktor sumberdaya manusia ini telah menghadirkan suatu proses pemikiran baru dalam telaah teori-teori pembangunan ekonomi, yang menempatkan sumberdaya manusia sebagai poros utama pembangunan ekonomi baik dalam skala global, nasional maupun daerah. Strategi pembangunan ekonomi yang berbasis pada pengembangan sumberdaya manusia (human resources development) dianggap sangat relevan dan cocok dengan kondisi dan karakter pembangunan ekonomi terutama di negara-negara berkembang sejak era 80-an. Strategi pembangunan ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang pakar perencanaan pembangunan ekonomi berkebangsaan Pakistan yang bernama Mahbub Ul Haq yang pada saat itu menjadi konsultan Utama United Nation Development Programme (UNDP). Mahbub Ul Haq berpendapat bahwa pengembangan sumberdaya manusia harus dijadikan landasan utama dalam kebijakan pembangunan ekonomi di negara-negara sedang berkembang, dan hal ini dianggap penting mengingat ketertinggalan negara-negara berkembang terhadap negara-negara industri maju dalam tingkat kesejahteraan ekonomi seperti kualitas dan standar hidup hanya akan dapat diperkecil manakala terjadi peningkatan yang sangat signifikan dalam pengembangan kualitas sumberdaya manusia.
Dari pola pemikiran seperti diatas maka takaran peranan sumberdaya manusia dalam proses pembangunan ekonomi dalam konteks untuk mengurangi kesenjangan pembangunan ekonomi pada dasarnya harus dilihat dari aspek peningkatan kualitasnya. Dengan kualitas sumberdaya manusia yang semakin meningkat, akan dapat mendorong peningkatan produktivitas ekonomi sekaligus sebagai modal dasar untuk memacu pertumbuhan ekonomi.
Bagi kebayakan negara-negara yang tingkat pembangunan ekonominya sudah tergolong lebih maju, produktivitas sumberdaya manusia secara teknis telah dijadikan sebagai instrumen terpenting untuk mempertahankan pencapaian laju pertumbuhan ekonomi, sekaligus dalam upaya untuk memperkuat basis struktural perekonomiannya. Dalam era globalisasi, kualitas sumberdaya manusia yang handal akan sangat membantu suatu negara untuk memenangkan kompetisi atau persaingan dalam perekonomian global sekaligus dapat menjaga eksistensi negara tersebut dalam percaturan dan dinamika perekonomian dunia yang semakin kompetitif.


a. Peranan Sumberdaya Ekonomi Dalam Pembangunan Ekonomi Daerah

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam era otonomi daerah dewasa ini, kecepatan dan optimalisasi pembangunan wilayah (daerah) tentu akan sangat ditentukan oleh kapasitas dan kapabilitas sumberdaya ekonomi (baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia).
Keterbatasan dalam kepemilikan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang berkulitas dapat menimbulkan kemunduran yang sangat berarti dalam dinamika pembangunan ekonomi daerah. Konsekuensi lain yang ditimbulkan sebagai akibat terbatasnya kapasitas dan kapabilitas sumberdaya ekonomi yang dimiliki daerah adalah ketidakleluasaan daerah yang bersangkutan untuk mengarahkan program dan kegiatan pembangunan ekonominya, dan situasi ini menyebabkan munculnya pula disparitas pembangunan ekonomi wilayah. Kondisi ini tampaknya menjadi tak terhindarkan terutama bila dikaitkan dengan pelaksanaan otonomi daerah dewasa ini.Dalam telaah teoritis, dengan sangat tepat Hadi dan Anwar (1996) yang banyak menganalisis tentang dinamika ketimpangan dan pembangunan ekonomi antar wilayah mengungkapkan bahwa salah satu penyebab munculnya ketimpangan pembangunan ekonomi antar wilayah di Indonesia adalah adanya perbedaan dalam karakteristik limpahan sumberdaya alam (resources endowment) dan sumberdaya manusia (human resources) disamping beberapa faktor lain yang juga sangat krusial seperti perbedaan demografi, perbedaan potensi lokasi, perbedaan aspek aksesibilitas dan kekuasaan (power) dalam pengambilan keputusan serta perbedaan aspek potensi pasar.
Dengan pola analisis sebagaimana diilustrasikan diatas dapat digarisbawahi bahwa pengelolaan, ketersediaan, dan kebijakan yang tepat, relevan serta komprehensif amat dibutuhkan dalam kaitannya dengan percepatan proses pembangunan ekonomi daerah dan penguatan tatanan ekonomi daerah yang pada gilirannya dapat menjamin keberlanjutan proses pembangunan ekonomi dimaksud. Namun amat disayangkan, dinamika pelaksanaan pembangunan ekonomi wilayah (daerah) dalam era otonomi daerah dewasa ini, memiliki atau menampakkan suatu kedenderungan dimana daerah yang kaya akan sumberdaya alam lebih cepat menikmati kemajuan pembangunan bila dibandingkan dengan wilayah lain yang miskin akan sumberdaya alam, hal ini diperparah lagi dengan keterbatasan kualitas sumberdaya manusia. Apabila kondisi seperti ini terus berlanjut maka tidaklah terlalu mengherankan manakala issu tentang ketimpangan pembangunan antara wilayah (kawasan) yang merebak di akhir Pembangunan Jangka Panjang Tahap Pertama yang lalu, kembali muncul dengan sosok yang semakin mengkhawatirkan.Sebagai ilustrasi, berikut ini dikutip pendapat seorang pakar yang banyak menyoroti tentang dinamika otonomi daerah : “.. negara Indonesia kaya akan sumberdaya alam, tetapi rakyatnya banyak yang miskin. Kenyataan paradoksal tersebut tentunya ada penyebabnya, antara lain karena lemahnya pengelolaan manajemen sumberdaya alam serta penguasaan oleh segelintir orang yang rakus. Seiring dengan semangat desentralisasi, sebagian besar kewenangan pengelolaan sumberdaya alam sudah diserahkan kepada daerah, termasuk kewenangan di daerah otoritas seperti kawasan kehutanan, kawasan pertambangan, kawasan pelabuhan dan lain sebagainya yang selama ini tidak tersentuh oleh kewenangan Daerah Kabupaten/ Kota (lihat pasal 129 UU Nomor 22 Tahun 1999). Bagaimana menggunakan sumberdaya alam untuk kepentingan rakyat banyak akan sangat tergantung pada kemauan politik (political will) dan tindakan politik (political action) dari pemerintahan daerah”. (Wasistiono, 2003)

1.2 Sumber Daya Sementara
a.Barang yang menggunakan waktu
Produk yang memerlukan pemakaian waktu dalam mengkonsumsinya.
Contoh: Pergi jalan-jalan,Tidur,Perawatan pribadi

b.Barang penghemat waktu
Produk yang menghemat waktu memungkinkan konsumen meningkatkan waktu leluasa mereka.
Contoh: Microwave,Restoran Fast food



1.3 Sumber Daya Kognitif

- Sumber Daya Kognitif
Adalah kepemimpinan  teori psikologi industri dan organisasi yang dikembangkan oleh Fred Fiedler dan Joe Garcia pada tahun 1987 sebagai konsepyualisasi dari model kontingensi Fiedler.Teori ini berfokus pada pengaruh pemimpin intelijen dan pengalaman tentangnya atai reaksinya terhadap stres.
Inti dari teori ini adalah bahwa stress adalah musuh rasionalitas,merusak kemampuan pemimpin untuk berpikir logis dan analitis.Namun,pengalaman pemimpin dan kecerdasan dapat mengurangi pengaruh stres pada (atau dia) nya tindakan: kecerdasan adalah faktor utama dalam situasi stres rendah,sementara jumlah pengalaman selama lebih selama saat stres.







Prediksi teori sumber daya kognitif

1. Kemampuan kognitif seorang pemimpin memberikan kontribusi terhadap kinerja tim hanya ketika pendekatan pemimpin adalah direktif.Ketika para pemimpin lebih baik dalam perencanaan dan pengambilan keputusan,agar rencana mereka dan keputusan untuk dilaksanakan,mereka perlu untuk memberitahu orang apa yang harus dilakukan,bukan hanya berharap mereka setuju dengan mereka.Ketika mereka tidak lebih baik dari orang-orang di tim,maka pendekatan non-direktif adalah lebih tepat,misalnya dimana mereka memfasilitasi diskusi terbuka dimana ide-ide tim dapat ditayangkan dan pendekatan yang terbaik diidentifikasi dan diimplementasikan.

2. Stres mempengaruhi hubungan antara kecerdasan dan kualitas keputusan.Ketika ada tekanan rendah maka intelijen adalah sepenuhnya fungsional dan memberikan kontribusi yang optimal.Namun,selama stres yang tinggi,kecerdasan alam tidak hanya membuat perbedaan,tetapi juga mungkin memiliki efek negatif.Aalah satu alasan untuk ini mungkin bahwa orang cerdas mencari solusi rasional,yang mungkin tidak tersedia (dan mungkin salah satu penyebab stres.).Dalam situasi seperti itu,seorang pemimpin yang berpengalaman dalam keputusan-keputusan “usus merasa” dipaksa untuk mengandalkan pendekatan asing.Kemungkinan lain adalah behwa pemimpin retret dalam dirinya/dirnya sendiri,berpikir keras tentang masalah ini,meninggalkan kelompok untuk perangkat mereka sendiri.

3. Pengalaman adalah posotif berhubungan dengan kualitas ke[utusan dibawah tekanan tinggi.Ketika ada situasi stres yang tinggi dan kecerdasan terggtanggu,pengalaman situasi yang sama atau mirip memungkinkan pemimpin untuk bereaksi dengan cara yang tepat tanpa harus berpikir hati-hati tentang situasi.Pengalaman pengambilan keputusan dibawah tekanan juga akan berkontribusi terhadap keputusan yang lebih baik daripada mencoba untuk mengatasi dengan otak-kekuasaan belaka.

4. Untuk tugas-tugas sederhana,pemimpin intelijen dan pengalaman tidak relevan.Ketika bawahan diberi tugas yang tidak membutuhkan arahan atau dukungan,maka tidak peduli seberapa baik pemimpin adalah pada pengambilan keputusan,karena mereka mudah untuk membuat,bahkan untuk bawahan,dan karenannya tidak memerlukan dukungang lebih lanjut.

Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme,
a. Periode sensorimotor
Menurut Piaget,bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan:
1. Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
2. Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
3. Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
4. Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
5. Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
6. Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreatifitas
b. Tahapan praoperasional
Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra)Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.
Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan bahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.
c. Tahapan operasional konkrit
Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:
• Pengurutan—kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
• Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme(anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)
• Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
• Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
• Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
d. Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.
e. Tahapan operasional formal
Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada “gradasi abu-abu” di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif penawaran normal, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.
Informasi umum mengenai tahapan-tahapan
Keempat tahapan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
• Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu sama. Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur.
• Universal (tidak terkait budaya)
• Bisa digeneralisasi: representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan
• Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis
• Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi)
• Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, bukan hanya perbedaan kuantitatif
Proses perkembangan
Seorang individu dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan lingkungan. Dengan berinteraksi tersebut, seseorang akan memperoleh skema. Skema berupa kategori pengetahuan yang membantu dalam menginterpretasi dan memahami dunia. Skema juga menggambarkan tindakan baik secara mental maupun fisik yang terlibat dalam memahami atau mengetahui sesuatu. Sehingga dalam pandangan Piaget, skema mencakup baik kategori pengetahuan maupun proses perolehan pengetahuan tersebut. Seiring dengan pengalamannya mengeksplorasi lingkungan, informasi yang baru didapatnya digunakan untuk memodifikasi, menambah, atau mengganti skema yang sebelumnya ada. Sebagai contoh, seorang anak mungkin memiliki skema tentang sejenis binatang, misalnya dengan burung. Bila pengalaman awal anak berkaitan dengann burung kenari, anak kemungkinan beranggapan bahwa semua burung adalah kecil, berwarna kuning, dan mencicit. Suatu saat, mungkin anak melihat seekor burung unta. Anak akan perlu memodifikasi skema yang ia miliki sebelumnya tentang burung untuk memasukkan jenis burung yang baru ini.
Asimilasi adalah proses menambahkan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya. Dalam contoh di atas, melihat burung kenari dan memberinya label “burung” adalah contoh mengasimilasi binatang itu pada skema burung si anak.
Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Dalam proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali. Dalam contoh di atas, melihat burung unta dan mengubah skemanya tentang burung sebelum memberinya label “burung” adalah contoh mengakomodasi binatang itu pada skema burung si anak.
Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.
Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena menerima pengetahuan dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi pengetahuanny

1.4 Pengetahuan Organisasi
Pengetahguan konsumen akan mempengaruhi keputusan pembelian apa yang dibeli,berapa banyak yang dibeli,dimana membeli dan kapan membeli akan tergantung kepada pengetahuan konsumen mengenai hal-hal tersebut.Pengetahuan konsumen adalah semua innformasi yang dimiliki konsumen mengenai berbagai macam produk,serta pengetahuan lainnya yang terkait dan informasi yang berhubungan dengan fungsinya sebagai konsumen.
1.Pengetahuan tentang karakteristik/atribut produk.
2.Pengetahuan tentang manfaat produk
3.Pengetahuan tentang kepuasan yang diberikan produk kepada konsumen.

- Manfaat Fungsional,adlah manfaat yang dirasakan konsumen secara fisiologis
- Manfaat Psikososial,adalah aspek psikologis dan aspek sosial yang dirasakan konsumen setelah mengkonsumsi suatu produk

Nama : Oldy Himawan W
Kelas : 3EA12
NPM : 12209302
Mata Kuliah :Perilaku konsumen

Sabtu, 19 November 2011

Tugas metode riset bab 3

Bab 3 Metodologi Penelitian



3.1 Data dan Sumber Data

Dari jenis metodologi yang digunakan,peneliti menggunakan jenis data primer yang dikaji dari 30 orang sample data yang diperoleh secara acak.Dari hasil penelitian terhadap 30 sampe ditemukanlah sejumlah data yang mengacu kepada hubungan tingkat kepuasan konsumen terhadap apa yang dilakukan oleh provider / penyedia jasa layanan selular.



3.2 Variabel dan Indikator

Variabel yang digunakan disini oleh peneliti adalah :
- Tarif
- Lama Masa Pemakaian
- Tingkat kepuasan
- Tingkat Promosi
- Tingkat Pelayanan Provider terhadap konsumen




Tabel 1
Tingkat Pengguna


- Dari data acak sebanyak 30 sampel ditemukan kecenderungan konsumen menggunakan provider dari indosat yang membuatnya meraih separuh dari jumlah data sampel yang ada.

- Dan provider 3 (Three) menyusul di tingkat ke dua disusul oleh Telkomsel dan XL











Tabel 2
Lama Pemakaian Kartu Provider



- Dari tabel diatas jelas bahwa pengguna indosat banyak yang terbilang pengguna setia yang digambarkan lewat tabel berwarna biru yang menjulang tinggi.Dalam hal ini indosat masih terbilang mampu mempertahankan konsumennya dengan memberikan kemudahan dan memanjakan konsumen dan calon konsumennya lewat berbagai media seperti promosi dll.


Tabel 3
Tingkat Pelayanan Provider



- Didalam tabel ke 3 kali ini variabel yang diangkat adalah Tingkat pelayanan Provider,dan pada umumnya semua provider mendapatkan tingkatan Cukup Baik yang berarti masih adanya kekurangan yang mungkin membuat konsumen kurang nyaman atau masih belum merasa terpuaskan seluruhnya.

- Hanya beberapa data yang menyatakan bahwa puas dan ada pula data yang menyatakan kurang yang berarti ada gangguan dalam pelayanan yang menyebabkan adanya sikap ketidak sukaan atau ketidakpuasan terhadap pelayanan yang diberikan oleh provider tersebut



Tabel 4
Tarif



- Dalam grafik Tarif umumnya terbilang cukup murah namun dalam grafik telkomsel masih dijumpai data yang menyebutkan bahwa tarif yang dipasang oleh telkomsel terbilang mahal bahkan sangat mahal bagi penggunanya


Tabel 5
Promosi



- Dalam tabel promosi umunya para provider telah dirasa cukup baik dalam penyampaian maksud dan tujuan dari apa yang diinginkan oleh provider dan dalam tahap pemenuhan kepuasan konsumen lewat berbagai macam strategi promosi seperti diskon menelpon,sms murah,gratis dll.









Tabel 6
Tingkat Kepuasan


- Dalam tabel terakhir ini membuktikan bahwa pada umumnya pelanggan setia indosat merasa cukup dalam kinerja pemenuhan kepuasan yang dilakukan oleh penyedia layanan indosat begitu juga pelanggan 3 (three) yang merasakan cukup dalam tingkat kepuasan

- Dalam grafik telkomsel ada 2 data sample yang menyatakan bahwa kurang puas dan 1 yang menyatakan puas terhadap apa yang dilakukan oleh telkomsel

- Dalam grafik XL terjadi sama besar tingkatan yang menyatakan baik/puas dan cukup baik/cukup puas




Nama   :           Oldy Himawan
Kelas   :           3ea12
NPM   :           12209302

Selasa, 08 November 2011

Tugas softskill perilaku konsumen,tugas ke-2

 BAB I PENDAHULUAN


            Dalam suatu usaha atau kegiatan perdagangan jelas adanya korelasi antara penjualan dan pembelian,seorang pedagang yang menjual barang / jasa kepada customer dan customer sebagai pihak yang membutuhkan barang / jasa yang ditawarkan oleh produsen / distributor jelas melakukan kegiatan suatu pembelian terhadap barang / jasa tersebut.Dan disini hal yang akan dibahas ialah bagaimana terjadinya proses keputusan dalam proses pembelian,mengadakan alternatif pemililah terbaik dan memilih sumber pembelian.




1.1 Definisi
           

Menurut Bodnar dan Hopwood (2001:323)
            “Procurement is the business process of selecting a source,ordering,and acquiring goods or services.” Dalam arti bahwa pembelian adalah proses bisnis dalam memilih sumber daya-sumber daya,pemesanan dan perolehan barang atau jasa.


Menurut Beown dkk (2001:132)
            “Managing the inpits into the organization’s transformation (production process).” Dalam artian bahwa pembelian merupakan pengelolaan masukan ke dalam proses produksi organisasi.

Dapat disimpulkan bahwa pembelian adalah kegiatan perpindahan barang / jasa dalam bentuk transaksi yang bertujuan untuk pengadaan barang / jasa yang dibutuhkan dalam proses produksi.




1.2 Proses keputusan membeli

Proses keputusan membeli dapat dikategorikan menjadi beberapa tahapan,tahapan tersebut adalah :

1.Pengenalan Kebutuhan
Suatu tahapan dimana suatu konsumen akan mencari tau tentang apa yang sebenarnya ia butuhkan,dan konsumen merasakan adanya masalah atau kebutuhan.Konsumen merasakan perbedaan antara keadaan nyata dan keadaan yang diinginkan



2.Pencarian Informasi

Tahapan dimana merangsang konsumen untuk mencari informasi lebih tentang suatu produk atau menungkatkan perhatian dan mencari aktif informasi dari berbagai sumber-sumber alternatif.


Beberapa sumber alternatif dapat dibedakan menjadi:

- Sumber pribadi                     :           Keluarga,teman,tetangga,kenalan
Sumber yang berasal dari orang-orang sekitar calon konsumen yang telah dan mengenal produk yang akan atau telah dicobanya.

- Sumber komersial     :           Iklan,wiraniaga,agen,kemasan,pajangan
Sumber yang berasal dari produsen itu sendiri untuk mengenalkan produk yang akan mereka pajang atau mereka perkenalkan secara umum

- Sumber publik                       :           Media massa,organisasi penilai konsumen
Sumber yang cakupannya lebih luas dari sumber komersil

- Sumber pengalaman  :           Penanganan,pemerikasaan dan mengunakan produk
Sumber yang umumnya datang dari diri sendiri akan suatu pengenalan yang telah dilakukan sebelumnya atau telah melakukan proses pembelian sebelumnya


3.Evaluasi alternatif

Bahwa cakupan informasi yang telah didapat oleh calon konsumen telah dirasakan cukup dan ada dorongan untuk melakukan dan mencari suatu alternatif lain dari informasi yang ada dan mungkin mencari merek-merek lain dalam pemenuhan kebutuhannya jika dirasa produk yang informasinya telah ia kumpulkan masih belum dapat memenuhi kebutuhan dan keinginannya.


4.Keputusan Pembelian

Suatu tahapan dimana ketika dirasa segala aspek telah mampu dan cukup alasan kuat untuk melakukan tindakan pembelian.Dalam proses ini masih dapat dirasakan pengaruh kuat atas tahapan evaluasi alternatif jika masih dirasanya kurang akan mampu membatalkan keinginan calon konsumen untuk membeli dan jika dirasa cukup akan menambah suatu keyakinan akan produk yang akan dibelinya.




5.Tingkah laku pasca pembelian

Tahapan terakhir dari suatu proses keputusan pembelian,yaitu konsumen mulai menentukan bahwa produk yang dia beli itu telah mampu memenuhi kebutuhan atau keinginannya atau tidak.Tahapan ini juga merupakan tahap pelabelan terhadap suatu produk dan akan menjadi suatu kunci untuk melakukan tahapan pembelian berulang jika dirasa produk yang dia beli mampu memenuhi kebutuhan dan keinginannya.



Pola pengambilan keputusan dalam proses pembelian dapat juga dibagi dalam beberapa tahapan lainya,tahapan tersebut adalah :

- Tahap Awareness
Tugas seorang komunikator jika calon pembeli belum mengenal objek yang akan diperjual belikan.

- Tahap Pengetahuan
Dalam proses ini tahapan yang dicapai adalah tahapan dimana pengetahuan tentang sesuatu produk semakin diperdalam lewat berbagai kegiatan semisal seminar,launching dll sehingga pengetahuan calon pembeli terhadap barang yang diperkenalkan semakin banyak dan membantu proses pembelian suatu produk

- Tahap Menyukai
Jika dalam tahapan pengetahuan calon pembeli sudah mampu dan merasa cukup dalam pengetahuan akan produk yang akan dibelinya,tahapan selanjutnya adalah tahapan menyukai dimana setiap produk yang ditawarkan dapat bertahan dan mampu mengambil hati calon pembeli sehingga dirinya tergugah untuk menyukai dan berlanjut pada proses pembelian nantinya

- Tahap Prefensi
Dalam tahapan ini banyaklah calon pembeli yang masih berfikiran konvensional dan menyukai cara-cara lama ketimbang cara yang baru,dalam tahapan ini diperlukan upaya untuk mencoba mengubah cara dan pola pikir calon pembeli sehingga dirinya berniat dan tertarik untuk mencoba suatu cara yang baru

- Tahap Keyakinan
Dalam tahapan ini tugas seorang komunikator untuk meyakinkan calon pembelinya dalam memilih dan pemilihan produk yang masih diragukannya.Butuh sebuah pendekatan yang cukup dan tepat sasaran dalam melancarkan serangan berupa keyakinan terhadap calon pembeli agar calon pembeli tersebut tidak merasa ditekan dalam membeli sebuah produk dan tetap merasa dapat memilih produk yang dia suka




- Tahap Pembelian
Dalam tahapan ini calon pembeli telah melalu beberapa tahapan sebelumnya dan telah meyakini dirinya bahwa produk yang ditawarkan memang sesuai dengan apa yang dia inginkan sehingga proses pembelian terakhir adalah tahapan pembelian.Didalam tahapan ini seorang komunikator dapat menambahkan beberapa program untuk semakin menarik minat calon pembeli sehingga semakin banyak produk-produk yang terjual misal dengan beberapa program semisal diskon,gratis produk untuk pembelian dengan nominal tertentu dll



Dalam hubungannya dengan organisasi,hubungannya dengan kedudukan konsumen semakin penting,tak hanya produsen yang memproduksi barang layaknya yang mereka ingin lempar dipasaran,namun pemenuhan keinginan terhadap hasrat konsumen pun seringkali terjadi sebagai proses pemenuhan kebutuhan bagi konsumen.Diikuti dan diiringi dengan perkembangan teknologi informasi yang memberikan kemudahan konsumen mengetahui,memahami dan mempunyai banyak pilihan.Proses keputusan pembelian menurut Philip Kotler (1998:170) terdiri dari lima tahapan,yaitu: pengenalan kebutuhan,pencarian informasi,evalusi alternatif,keputusan pembelian,paska pembelian

Penegasan yang Buchari Alma lakukan,”..setelah melakukan penilaian maka diambilah keputusan membeli atau tidak membeli” (2002:59).Konsep dasar keputusan dalam pandangan dalam Setiajatnika (1999:31) meliputi empat komponen sebagai berikut :

1.         Keadaan dasar,yaitu sekumpulan peristiwa yang mempengaruhi hasil
keputusan.
2.         Peluang yang berkaitan dengan keadaan dasar
3.         Sekumpulan kegiatan yang dilakukan oleh pengambil keputusan
4.         Sekumpulan manfaat dan biaya kombinasi keputusan dasar


Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut,istilah keputusan pembeliaan menunjukan arti kesimpulan terbaik individu konsumen intuk melakukan pembelian.Konsumen melakukan kegiatan-kegiatan dalam mencapai kesimpulannya.Kualitas setiap kegiatan membentuk totalitas kesimpulan terbaik sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya.Keadaanya,kesimpulan terbaik penting didorong berbagai upaya organisasi sebagai keadaan dasar yang melandasi.Randal,Ulrich,dan Reibstein menyatakan,”Some attributes of a product are important to consumers,yet are difficult to observe” (1998:2).







Dalam suatu keputusan pembelian terdapat suatu pola  yang dapat dijabarkan sebagai Input,Proses dan juga Output.Penjelasan tentangnya dijabarkan sebagai


1.Input
            Faktor dari luar yang terdiri dari bauran pemasaran dan faktor sosial.Bauran pemasaran untuk menjangkau,memberi informasi dan mendorong keputusan pembelian konsumen.Faktor sosial budaya meliputi keluarga,sumber informasi,sumber non komersil,kelas sosial dan sub budaya memberikan pengaruh bagaimana konsumen melakukan evaluasi dalam menerima atau menolak produk maupun perusahaan.

2.Proses
            Proses pembelian dapat dipengaruhi oleh unsur psikologis yang menentukan tipe pembeilan yang mereka buat meliputi motivasi,persepsi,belajar,keprbadian dan sikap.
           
a. Adanya kebutuhan
            Kesenjangan antara keadaan faktual dengan keadaan yang diinginkan
konsumen.Kebutuhan ini dapat dirasakan baik melalui rangsangan dari
luar maupun dari dalam diri konsumen seperti lapar dan haus
           
            b. Pencarian informasi sebelum pembelian
            Informasi dibutuhkan sebagai alat pertimbangan dari berbagai alternatif
yang ada.Informasi tersebut dikumpulkan dalam jumlah lebih dari satu
yang dapat mempunyai kesamaan,melengkapi bahkan berbeda dalam keberadaaanya.Persamaan informasi mendukung daya kepercayaan dimana perbedaan memberikan alasan untuk evaluasi kesesuaian dengan kebutuhan maupun keinginan konsumen.
           
c. Evaluasi alternatif
            Perbandingan dari berbagai alternatif yang tersedia sehingga diperoleh
pilihan terbaik.

3.Output
            Perilaku pengambilan keputusan yang terdiri dari perilaku pembelian dan evaluasi setelah pembelian.

a. Pembelian
            Terdapat 2 jenis pembelian,yaitu pembelian coba-coba dan pembelian ulang.Pembelian coba-coba adalah tahap awal dari konsumen untuk mengetahui bahwa produk yang ditawarkan memang sesuai ataulah tidak.Dan pembelian berulang adalahan suatu tahapan kelanjutan dari pembelian coba-coba jika konsumen merasa produk yang ditawarkan memang merasa nyaman dirasakan.




b.Evaluasi setelah pembelian
            Evaluasi ini dilakukan untuk menemukan suatu pencapaian terhadap harapan dan keinginan serta kebutuhan sebenarnya dari suatu pemenuhan kebutuhan yang dilakukan oleh seorang konsumen


Abraham Maslow mengklasifikasikan kebutuhan secara sistematik ke dalam lima kategori,yaitu:

1.Kebutuhan fisiologis
Kebutuhan paling pokok seperti sandang,pangan dan papan

2.Kebutuhan rasa aman
Jika kebutuhan fisiologis telah terpenuhi maka kebutuhan yang mengantikan berikutnya adalah kebutuhan akan rasa aman.Kebutuhan ini diperlukan untuk bisa melakukan kehendak sesuai apa yang dirasakan oleh seseorang dan dalam pemenuhannya dapat dilakukan dalam berbagai macam cara.

3.Kebutuhan sosial
Salah satu kebutuhan yang akan dipenuhi jika kebutuhan fisiologis dan rasa aman telah dapat terpenuhi,pemenuhan kebutuhan sosial tak lepas dari hakekat manusia bahwa tiada manusia yang dapat hidup sendiri dan dalam pencapaiaannya bisa dilakukan dalam berbagai tindakan sosial seperti pertemanan,perkenalan dll

4.Kebutuhan ego
Kebutuhan yang berkaitan dengan kehormatan diri,reputasi seseorang seperti pengakuan dan penghormatan.

5.Kebutuhan perwujudan diri
semua kebutuhan pada tingak lebih rendah telah terpenuhi.Kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan yang dimiliku semua orang untuk menjadi orang yang memuluku kemampuan untuk mewujudkannya seperti pegawai yang mengikuti kuliah untuk mencapau jenjang pendidikan lebih tinggi.



Klasifikasi kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow dikemukakan lag dalam dua bagian oleh Frederick Herzberg dalam sebuah buku Pramudya Sunu (1998:8) yakni: Bagian pertama adalah kebutuhan tingkat rendah (fisiologis,rasa aman dan sosial) yang dapat disimpulkan setiap manusia mempunyai pemenuhan kebutuhan akan fisiologis,perasaan akan sebuah keamanan dan juga perwujudan diri yang merupakan hak dasar seorang manusia untuk memilikinya.Kedua,kebutuhan tingkat tinggi (kebutuhan ego dan perwujudan diri) kebutuhan yang dalam pemenuhannya akan sejalan dengan

kecukupan atas kebutuhan dasar yang mulai merangkak naik menjadi pola pemenuhan yang bersifat lebih individualistis.

Pengembangan atau kombinasi kebutuhan-kebutuhan memunculkan konsep kebutuhan konsumen yang baru dan berbeda dari masing-masing kebutuhan pembentuknya.Melalui asumsi adanya persaingan dan pesaing-pesaing mengetahui berupaya memenuhi kebuthan konsumen dengan dasar klasifikasi yang telah dikemukakan.Suatu keungulan bagi suatu organisasi yang mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan akan pengembangan atau kombinasi dari kebutuhan-kebutuhan konsumen.


Dalam pandangan Indrianty Sudirman (2003:16) hambatan orientasi pasar dapat dilihat sebagai berikut:

1.Pelangan yang tidak selalu menyadari kebutuhannya,terutama kebuthan waktu yang akan datang sehingga perusahaan perlu mengarahkannya sebelum perusahaan lain melakukannya.

2.Pelanggan masih belum mampu menentukan cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan walau kebutuhan tersebut telah dapat diidentifikasikan.



Kegiatan pencarian informasi

            Kegiatan ini dilakukan oleh konsumen jika kesadaran akan informasi yang diterimanya berasa kurang atau tidak jelas sehingga mendorong konsumen untuk berbuat lebih dalam pemenuhan kebutuhan akan informasi produk yang diinginkannya tersebut.kesadaran tersebut menjadi faktor internal untuk konsumen mencari alternatif yang tersedia dalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya.Ketersediaan alternatif-alternatif dalam keberadaannya dibatasi sumber daya individu konsumen dan kemampuan organisasi dengan produknya yang memunculkan perbedaan.

Dalam tabel yang dikemukakan oleh Sutisna (2001:21) menyebutkan terdapat dua tipe pencarian informasi yang dilakukan konsumen,dan dua tipe tersebut adalah:











TABEL
TIPE – TIPE PENCARIAN INFORMASI YANG DILAKUKAN KONSUMEN

Pencarian Informasi Pra Pembelian
Pencarian Informasi Terus Menerus
Determinan
     a.Keterlibatan dalam pembelian
     b.Lingkungan pasar
     c.Faktor-faktor situasional

Motif Pencarian
     Membuat keputusan pembelian yang
      lebih baik

Hasil yang diharapkan
      a.Meningkatkan pengetahuan atas
         produk dan pasar
      b.Meingkatkan hasil pembelian
         yang memuaskan

Determinan
     a.Keterlibatan dengan produk
     b.Lingkungan pasar
     c.Faktor-faktor situasional

Motif Pencarian
     Membangun bank informasi untuk
     digunakan pada masa mendatang
     sebagai cara untuk bersenang-
     senang

Hasil yang diharapkan
    a.Meningkatkan pengetahuan atas
       produk dan pasar yang akan
       digunakan untuk pembelian efektif
       dan efisien pada masa mendatang
    b.Mempengahruhi orang lain
    c.Meningkatkan kepuasan




Evaluasi alternatif

Dikemukakan oleh Philip Kotler bahwa,”Konsumen mempelajari merek-merek yang tersedia dan ciri-cirinya.Informasi ini digunakan untuk mengevaluasi semua alternatif yang ada dalam menentukan keputusan pembeliannya” (1998:170)

Menurut Sutisna,”Setidak-tidaknya ada dua kriteria evaluasi alternatif.Pertama adalah manfaat yang diperoleh dengan membeli produk.Kedua,kepuasan yang diharapkan”

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut diketahui bahwa jika alternatif telah diperoleh konsumen melakukan tindakan selanjutnya yaitu mengevaluasi alternatif.Keterlibatan konsumen dengan produknya akan menentukan evaluasi alternatif tersebut.



Nama : Oldy Himawan
Kelas : 3EA12
NPM : 12209302

Senin, 31 Oktober 2011

Metode riset 26/10/11

Bab 2

2.1 Teori dasar

            Dalam penelitian kerangka teori digunakan untuk memberi landasan dasar yang berguna untuk membanti penelitinya dalam pemecahan masalah.Kerangka teori dimaksudkan untuk memberi batasan dan gambaran tentang teori yang di gunakan sebagai landasan penelitian yang akan dilakukan dengan demikian penulisan dapat mengunakan teori-teori yang relevan dengan tujuan penelitian.

Pengertian pelayanan
Menurut Kotler
adalah setiap kegiatan atas unjuk kerja yang ditawarkan oleh salah satu pihak kepada pihak lain yang secara prinsip intangileble dan tidak menyebabkan pemindahan kepemilikan apapun,produksinya bisa juga tidak terikat pada suatu produk fisik.

Menurut Stanton
Pelayanan adalah suatu yang diidentifikasikan secara terpisah,tidak berwuud dan ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan sehingga dapat diambil pengertian bahwa pelayanan merupakan suatu manfaat yang diberikan oleh satu pihak kepada pihak lain dan biasanya tidak berwujud

Pengertian pelayanan secara umum
            Suatu kesatuan usaha yang dinamis yang terdiri dari berbagai bagian yang berkaitan secara teratur,diikuti dengan unjuk kerja yang ditawarkan oleh satu pihak terhadap pihak lain dengan memberikan manfaat,guna mencapai suatu tujuan

2.2 Pengertian Kepuasan konsumen
            Adalah hasil yang dirasakan oleh pembeli/pengguna yang mengalami kinerja sebuah perusahaan yang sesuai dengan harapannya.

Pengertian Tingkat Kepuasan
            Adalah suatu titik dimana segala kinerja yang dilakukan suatu perusahaan mampu memuaskan keinginan seorang konsumen

2.3 Hipotesis
1.Ha = Adanya keterkaitan tingkat pelayan terhadap tingkat kepuasan konsumen.
2.Ho = Tidak ada keterkaitan tingkat pelayanan terhadap tingkat kepuasan konsumen

Oldy Himawan
3EA12
12209302

Senin, 24 Oktober 2011

Tugas Metode Riset Ke-3

Menguji Tingkat Kepuasan Pelanggan Dengan Pelayanan Yang Diberikan Provider Telepon Selular



BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

            Dijaman yang semua serba mudah dan praktis semua orang ingin serba segala sesuatunya serba efisien dan efektif. Begitu pula dengan halnya dari segi pelayanan yang mereka dapat dari setiap provider telepon selular yang mereka gunakan.Banyaknya provider telepon selular dewasa ini bertujuan memberikan banyaknya masukan dan pilihan bagi para calon pelanggan untuk memilih provider mana yang mereka inginkan,baik ditinjau dari segi pelayanan,segi harga dan segi faktor lainnya.Para penyedia layanan selular pun tak hanya memberikan pelayanan berupa teknis namun non teknis dengan berusaha merebut hati para calon pelanggan dengan produk yang mereka tampilkan lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihan para provider masing – masing.Persaingan setiap provider pun tak dapat terelakkan.Setiap penyedia layanan punya jurus jitu masing-masing untuk merebut hati lewat pelayanan teknis maupun non teknis.Dengan segala pelayanannya ditengah berbagai kabar buruk tentang operator yang berbuat curang kepada para pelanggannya dan bagaimana cara para penyedia layanan mengatasi kecemasan oleh kabar yang sedang beredar belakangan ini.Oleh karenanya penulis tertarik melakukan sebuah penelitian tentang menguji tingkat kepuasan pelanggan dengan pelayanan yang diberikan provider telepon selular




Rumusan Masalah
            - Mengetahui tingkatan perbandingan yang dihadirkan oleh operator selular dengan hasil yang mereka peroleh


Tujuan Penelitian
-          Mengetahui seberapa besar tingkat kepuasan yang dicapai dan diperoleh oleh setiap individu pelanggan dalam pemuasan tingkat kinerja yang dihadirkan oleh setiap penyedia layanan selular
-          Mengetahui seberapa besar tingkat timbal balik yang dihasilkan penyedia layanan provider dari peningkatan kinerja yang mereka hasilkan




Nama : Oldy Himawan W
Kelas : 3EA12
NPM : 12209302
Mata Kuliah : Metode riset

Kamis, 13 Oktober 2011

Tugas softskill perilaku konsumen

BAB I.PENDAHULUAN



Segmentasi pasar adalah sebuah metode bagaimana memandang pasar secara kreatif. Kita perlu secara kreatif mengidentifikasi dan memanfaatkan peluang yang muncul di pasar (Hermawan Kertajaya). Segmentasi pasar sangatlah penting di dalam bisnis dan pemasaran. Walaupun kita tidak boleh mengiris-iris pasar terlalu kecil, segmentasi pasar tetaplah suatu hal yang harus dipelajari dalam membangun usaha. Peranan segmentasi dalam marketing :
1.                   Memungkinkan kita untuk lebih fokus masuk ke pasar sesuai keunggulan kompetitif perusahaan kita.
2.                  Mendapatkan input mengenai peta kompetisi dan posisi kita di pasar.
3.                  Merupakan basis bagi kita untuk mempersiapkan strategi marketing kita selanjutnya.
4.                  Faktor kunci mengalahkan pesaing dengan memandang pasar dari sudut unik dan cara yang berbeda.
                                              



























BAB II.PEMBAHASAN



1.Definisi

Segmentasi Pasar

Membagi sebuah pasar ke dalam kelompok-kelompok pembeli yang khas berdasarkan kebutuhan, karakteristik atau perilaku yang mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran yang terpisah

Swastha & Handoko (1997)
mengartikan segmentasi pasar sebagai kegiatan membagi–bagi pasar/market yang bersifat heterogen kedalam satuan–satuan pasar yang bersifat homogen.

Pride & Ferrel (1995)
mengatakan bahwa segmentasi pasar adalah suatu proses membagi pasar ke dalam segmen-segmen pelanggan potensial dengan kesamaan karakteristik yang menunjukkan adanya kesamaan perilaku pembeli.

Pride & Ferrel (1995)
mendefinisikan segmentasi pasar sebagai suatu proses pembagian pasar keseluruhan menjadi kelompok–kelompok pasar yang terdiri dari orang–orang yang secara relatif memiliki kebutuhan produk yang serupa.
Ada lagi pendapat Swastha & Handoko (1987) yang merumuskan segmentasi pasar adalah suatu tindakan membagi pasar menjadi segmen–segmen pasar tertentu yang dijadikan sasaran penjualan yang akan dicapai dengan marketing mix.

Menurut Kotler, Bowen dan Makens (2002, p.254)
Pasar terdiri dari pembeli dan pembeli berbeda-beda dalam berbagai hal yang bisa membeli dalam keinginan, sumber daya, lokasi, sikap membeli, dan kebiasaan membeli. Karena masing-masing memiliki kebutuhan dan keinginan yang unik, masing-masing pembeli merupakan pasar potensial tersendiri. Oleh sebab itu penjual idealnya mendisain program pemasarannya tersendiri bagi masing-masing pembeli. Segmentasi yang lengkap membutuhkan biaya yang tinggi, dan kebanyakan pelanggan tidak dapat membeli produk yang benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk itu, perusahaan mencari kelas-kelas pembeli yang lebih besar dengan kebutuhan produk atau tanggapan membeli yang berbeda-beda. Segmen pasar terdiri dari kelompok pelanggan yang memiliki seperangkat keinginan yang sama (Kotler, 2005, p.307.)




1.1 Penetapan Target Pasar.
Proses mengevaluasi daya tarik tiap-tiap segmen dan memilih satu atau lebih segmen yang akan dimasuki.

1.2 Penempatan posisi

Mengatur produk supaya dapat menempati posisi pada benak konsumen yang jelas, khas, dan diinginkan secara relatif terhadap produk pesaing.

6. Menyusun bauran pemasaran tiap-tiap   segmen.
5. Menyusun penempatan segmen-segmen yang ditargetkan.

Penempatan Posisi di Pasar

4.   Memilih segmen sasaran
3. Mengevaluasi daya tarik masing-masing Segmen.

Penetapan Target Pasar

2.   Menyusun Profil-profil segmen
1.  Mengenali basis yang digunakan  untuk mensegmentasi pasar.

Segmwntasi Pasar

Gambar 4.1. Langkah-langkah dalam segmentasi, penetapan target dan penempatan posisi.





 

2. SEGMENTASI PASAR

 

2.1 Tingkatan Segmentasi Pasar


Pemasaran Massal ( Tanpa Segmentasi )

Pemasaran Segmen

Pemasaran Relung

Pemasaran Mikro ( Segmen Penuh )

Pemasaran Massal, yaitu memproduksi secara massal mendistribusikan secara massal, dan mempromosikan secara massal produk yang hampir sama dengan cara yang hampir sama kepada semua konsumen.

Pemasaran Segmen, Memisahkan segmen-segmen yang membentuk suatu pasar dan mengadaptasi tawarannya supaya sesuai dengan kebutuhan satu atau lebih segmen tersebut.

Pemasaran Relung, Memfokuskan diri pada subsegmen atau relung pasar yang memiliki sejumlah cirri bawaan yang khas yang mungkin mencari kombinasi sejumlah manfaat yang khusus.

Pemasaran Mikro, Praktek perancangan produk dan program pemasaran supaya sesuai benar dengan selera individu dan lokasi yang spesifik yang meliputi pemasaran lokal dan pemasaran individual.
-          Pemasaran Lokal, Perancangan merk dan promosi supaya sesuai benar dengan kebutuhan dan keinginan kelompok-kelompok pelanggan local --- kota, pemukiman, bahkan took yang spesifik.
-          Pemasaran Individual, Perancangan produk dan program pemasaran supaya sesuai benar dengan kebutuhan dan preferrensi pelanggan secara individual. Juga dinamakan pemasaran satu per satu ( one to one marketing ), pemasaran yang disesuaikan dengan ( customized marketing )kebutuhan dan pemasaran pasar yang terdiri dari satu orang  ( market of one marketing ).



2.2 Mensegmentasi Pasar Konsumen


a) Segmentasi Geografik

Segmentasi geografik membagi pasar menjadi beberapa unit
secara geografik seperti negara, regional, propinsi, kota, wilayah
kecamatan, wilayah kelurahan dan kompleks perumahan. Sebuah
perusahaan mungkin memutuskan untuk beroperasi dalam satu
atau beberapa wilayah geografik ini atau beroperasi di semua
wilayah tetapi tidak memperhatikan kebutuhan dan keinginan
psikologis konsumen.
Banyak perusahaan dewasa ini  “merigionalkan“ program
pemasaran produknya, dengan melokalkan produk, iklan, promosi
dan usaha penjualan agar sesuai dengan kebutuhan masingmasing regional, kota, bahkan kompleks perumahan.. 


b) Demografi

Segmentasi pasar demografik membagi pasar menjadi kelompok
berdasarkan pada variabel seperti  jenis  kelamin, umur, status
perkawinan, jumlah keluarga, umur anak, pendapatan, jabatan,
lokasi geografi, mobilitas, kepemilikan rumah, pendidikan, agama,
ras atau kebangsaan.  Faktor-faktor demografik ini merupakan
dasar paling populer untuk membuat segmen kelompok konsumen.
Alasannya utamanya, yakni kebutuhan konsumen, keinginan, dan
mudah diukur. Bahkan, kalau segmen pasar mula-mula ditentukan
menggunakan dasar lain, maka karakteristik demografik pasti
diketahui agar mengetahui besar pasar sasaran dan untuk
menjangkau secara efisien.


               - Umur dan Tahap Daur Hidup
               Perusahaan menggunakan segmentasi umur dan daur hidup,
               yakni menawarkan produk berbeda atau menggunakan
               pendekatan pemasaran yang berbeda untuk kelompok umur
               dan daur hidup berbeda. Misalnya, beberapa perusahaan
               makanan ringan “ciki” membuat produknya untuk konsumsi
               kaum anak-anak dan remaja.
              
               - Jenis Kelamin
               Perusahaan menggunakan segmentasi jenis kelamin untuk
               memasarkan produknya, misalnya pakaian, kosmetik, dan
               majalah. Banyak perusahaan kosmetika, yang mengembangkan
               produk parfum yang hanya ditujukan kepada para wanita atau
               kaum pria

- Pendapatan
               Pemasar produk telah lama menggunakan pendapatan menjadi
               segmentasi pemasaran  produk dan jasanya, seperti mobil,
               kapal, pakaian, kosmetik dan jasa transportasi. Banyak
               perusahaan membidik konsumen kaya dengan barang-barang
               mewah dan jasa yang memberikan kenyamanan dan
               keselamatan ekstra, sebaliknya ada beberapa perusahaan kecil
               yang  membidik konsumen dengan level social-ekonomi
               menengah ke bawah.

               -  Segmentasi Demografik Multivariasi
               Perusahaan banyak yang mensegmentasi pasar dengan
               menggabungkan dua atau lebih variabel demografik. Misalnya,
               suatu pemasaran produk yang segmentasi pasarnya diarahkan
               pada umur dan jenis kelamin.


c) Segmentasi Psikografik
Segmentasi psikografik membagi pembeli menjadi kelompok
berbeda berdasarkan pada karakteristik kelas sosial, gaya hidup
atau kepribadian. Dalam kelompok domografik, orang yang
berbeda dapat mempunyai ciri psikografik yang berbeda.

               - Kelas Sosial
                Kelas sosial ternyata mempunyai pengaruh kuat pada
               pemilihan jenis mobil, pakaian, perabot rumah tangga,
               properti, dan rumah. Pemasar menggunakan variabel kelas
               sosial sebagai segmentasi pasar mereka.

               - Gaya Hidup
               Minat manusia dalam berbagai barang dipengaruhi oleh gaya
               hidupnya, dan barang yang mereka beli mencerminkan gaya
               hidup tersebut. Atas dasar itu, banyak pemasar atau produsen
               yang mensegmentasi pasarnya berdasarkan gaya hidup
               konsumennya. Sebagai misal, banyak produsen pakaian remaja
               yang mengembang-kan desain produknya sesuai dengan selera
               dan gaya hidup remaja.
               -Kepribadian
                Para pemasar juga menggunakan variabel kepribadian untuk
               mensegmentasi pasar, memberikan kepribadian produk mereka
               yang berkaitan dengan kepribadian kopnsumen. Strategi
               segmentasi pasar yang berhasil berdasarkan pada kepribadian
               telah dipergunakan untuk produk seperti kosmetik, rokok, dan
               minuman ringan.


d) Segmentasi Tingkah Laku
Segmentasi tingkah laku mengelompokkan pembeli berdasarkan
pada pengetahuan, sikap, penggunaan atau reaksi mereka
terhadap suatu produk. Banyak pemasar meyakini bahwa variabel
tingkah laku merupakan awal paling baik untuk membentuk
segmen pasar.

               - Kesempatan
                  Segmentasi kesempatan membagi pasar menjadi kelompok
               berdasarkan kesempatan ketika pembeli mendapat ide untuk
               membeli atau menggunakan barang yang dibeli. Pembeli dapat
               dikelompokkan menurut kesempatan ketika mereka mendapat
               ide untuk membeli, benar-benar membeli, atau menggunakan
               barang yang dibeli. Segmentasi kesempatan dapat membantu
               perusahaan meningkatkan pemakaian produknya.
               Sebagai misal, Kodak menggunakan segmentasi kesempatan
               untuk merancang dan memasarkan kamera sekali pakai.
               Konsumen  hanya perlu memotrek dan mengembalikan film,
               kamera, dan semuanya, untuk diproses. Dengan
               menggabungkan lensa, kecepatan film, dan peralatan
tambahan yang lain. Kodak mengembangkan kamera versi
               khusus untuk hampir segala macam kesempatan, dari fotografi
               bawah air sampai memotret bayi.

               -Manfaat yang Dicari
               Salah satu bentuk segmentasi yang ampuh adalah
               mengelompokkan pembeli menurut manfaat yang mereka cari
               dari produk. Segmentasi manfaat membagi pasar menjadi
               kelompok menurut beragam manfaat berbeda yang dicari
               konsumen dari produk. Segmentasi manfaat menuntut
               ditemukannya manfaat utama yang dicari orang dalam produk,
               jenis orang yang mencari setiap manfaat, dan merek utama
               yang mempunyai manfaat.
               Perusahaan dapat menggunakan segmentasi manfaat untuk
               memperjelas segmen manfaat yang mereka inginkan,
               karakteristiknya, serta merek utama yang bersaing. Mereka juga
               dapat mencari manfaat baru dan meluncurkan merek yang
               memberikan manfaat itu.

               -Status Pengguna
               Pasar dapat disegmentasi menjadi kelompok bukan pengguna,
               mantan pengguna, pengguna potensial, pengguna pertama kali, dan
               pengguna regular dari suatu produk. Pemimpin pemasaran akan
memfokuskan pada cara menarik pengguna potensial,perusahaan yang lebih kecil akan memfokuskan pada cara menarik
               pengguna saat ini agar meninggalkan pimpinan pemasaran.

               - Tingkat Pemakaian
               Dalam segmentasi tingkat pemakaian, pasar  dapat dikelompokkan
               menjadi kelompok pengguna ringan, menengah dan berat. Jumlah
               pengguna berat  seringkali  hanya  sebagian kecil dari pasar, tetapi
               menghasilkan persentase yang tinggi dari total pembelian. 
               Pengguna produk dibagi menjadi dua bagian sama banyak, yakni
               separuh pengguna ringan,  dan  separuh pengguna berat, menurut
               tingkat pembelian dari produk spesifik. Sebagai  contoh, ditunjukkan
               bahwa  sejumlah 41% rumah tangga yang disurvai membeli bir,
               sebesar  87%  pengguna berat peminum  bir (hampir tujuh kali lipat
               dari pengguna ringan).
              
               - Status Loyalitas
               Sebuah perusahaan dapat disegmentasikan berdasarkan loyalitas
               konsumen. Konsumen dapat loyal terhadap merek,  toko dan
               perusahaan. Pembeli dapat dibagi beberapa kelompok menurut
               tingkat loyalitas mereka. Beberapa konsumen benar-benar loyal
               (membeli  selalu membeli  satu jenis produk), kelompok lain agak
               loyal (mereka loyal pada  dua merek atau lebih dari suatu  produk,
               atau menyukai satu merek tetapi kadang-kadang membeli merek
               yang lain).
                     Pemasar harus berhati-hati ketika menggunakan loyalitas merek
               dalam strategi segmentasinya. Pola pembelian yang loyal pada
               merek  ternyata mencerminkan sebagai  kebiasaan, sikap acuh tak
               acuh, harga yang rendah atau daftar yang telah tersedia.

2.3 Persyaratan supaya Segmentasi Efektif.

-          Terukur
-          Dapat dijangkau
-          Substansial
-          Dapat dibedakan
-          Dapat dilakukan tindakan tertentu.






3. Penetapan Target Pasar ( Pasar Sasaran )

3.1 Pasar Sasaran

Sepwerangkat pembeli yang memiliki kebutuhan dan karakteristik yang sama, yang diputuskan untuk dilayani oleh perusahaan.

1. Mengevaluasi Segmen Pasar
-          Ukuran dan pertumbuhan segmen.
-          Daya tarik structural segmen.
-          Tujuan dan sumber daya perusahaan..  
-            
2. Memilih Segmen Pasar.
-          Pemasaran tanpa diferensiasi ( Pemasaran massal ).
                     Strategi peliputan pasar dimana perusahaan mungkin memutuskan untuk mengabaikan perbedaan-perbedaan yang ada pada tiap-tiap segmen pasar, dan masuk ke pasar secara keseluruhan dengan satu tawaran.
-          Pemasaran yang terdiferensiasi.
                     Strategi peliputan pasar dimana sebuah perusahaan memutuskan untuk menetapkan beberapa segmen pasar atau relung pasar dan mendesain tawaran yang terpisah bagi masing-masing segmen.
-          Pemasaran terkonsentrasi.
                     Strategi peliputan pasar dimana sebuah perusahaan memilih untuk meraih pangsa pasar yang besar pada satu atau beberapa subpasar.

3. Memilih strategi Peliput Pasar.
-          Sumber daya yang dimiliki perusahaan.
-          Tahapan produk dalam daur hidup.
-          Homogenitas Pasar.
-          Strategi pemasaran yang dilakukan pesaing.



4. Penempatan ( Posisioning) Guna Mendapatkan Keunggulan Bersaing

Posisi Produk
Merupakan cara produk didefinisikan oleh konsumen berdasarkan beberapa atribut penting  ( tempat yang diduduki produk dalam benak konsumen dibandingkan hubungan dengan produk-produk pesaing.

Keunggulan Bersaing
Keunggulan terhadap pesaing yang diperoleh karena menawarkan kepada konsumen nilai yang lebih besar, baik melalui harga yang lebih murah atau dengan memberikan sejumlah manfaat yang lebih banyak yang dapat dijadikan alasan untuk menetapkan harga yang lebih tinggi.

Memilih Strategi Penempatan Produk ( Posisioning )
-          Mengidentifikasikan keunggulan bersaing yang mungkin.
-          Memilih Keunggulan pasaing yang tepat.
-          Mengkomunikasikan dan menyampaikan Posisi yang telah dipilih.




BAB III. PENUTUP

Manfaat dan Kelemahan Segmentasi

Banyaknya perusahaan yang melakukan segmentasi pasar atas dasar pengelompokkan variabel tertentu. Dengan menggolongkan atau mensegmentasikan pasar seperti itu, dapat dikatakan bahwa secara umum perusahaan mempunyai 
motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat penjualan dan yang lebih penting lagi agar operasi perusahaan dalam jangka panjang dapat berkelanjutan dan kompetitif (Porter, 1991).

Manfaat yang lain dengan dilakukannya segmentasi pasar, antara lain:
1. Perusahaan akan dapat mendeteksi secara dini dan tepat mengenai kecenderungan-kecenderungan dalam pasar yang senantiasa berubah.
2. Dapat mendesign produk yang benar-benar sesuai dengan permintaan pasar.
3. Dapat menentukan kampanye dan periklanan yang paling efektif.
4. Dapat mengarahkan dana promosi yang tersedia melalui media yang tepat bagi segmen yang diperkirakan akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar.
5. Dapat digunakan untuk mengukur usaha promosi sesuai dengan masa atau periode-periode dimana reaksi pasar cukup besar.

Gitosudarmo (2000) menambahkan manfaat segmentasi pasar ini, sebagai berikut:
1. Dapat membedakan antara segmen yang satu dengan segmen lainnya.
2. Dapat digunakan untuk mengetahui sifat masing-masing segmen.
3. Dapat digunakan untuk mencari segmen mana yang potensinya paling besar.
4. Dapat digunakan untuk memilih segmen mana yang akan dijadikan pasar sasaran.

Sekalipun tindakan segmentasi memiliki sederetan keuntungan dan manfaat, namun juga mengandung sejumlah resiko yang sekaligus merupakan kelemahan-kelemahan dari tindakan segmentasi itu sendiri, antara lain:

1. Biaya produksi akan lebih tinggi, karena jangka waktu proses produksi lebih pendek.
2. Biaya penelitian/ riset pasar akan bertambah searah dengan banyaknya ragam dan macam segmen pasar yang ditetapkan.
3. Biaya promosi akan menjadi lebih tinggi, ketika sejumlah media tidak menyediakan diskon.
4. Kemungkinan akan menghadapi pesaing yang membidik segmen serupa.
Bahkan mungkin akan terjadi persaingan yang tidak sehat, misalnya kanibalisme sesama produsen untuk produk dan segmen yang sama.



Daftar Pustaka



http://bisnisukm.com/apa-itu-segmentasi-pasar.html






Nama:Oldy Himawan W
Kelas:3ea12
NPM:12209302